Kisah gue kali ini berawal ketika dulu rambut gue masih gondrong. Bukan
cuman gue aja sih tapi si rekan gue juga, lu tau kan siapa! ngak perlu kan gue
sebutin lagi!
Awalnya sebelum masuk sekolah gue bersama rekan gue satu itu berniat untuk
potong rambut, namun karna waktu itu kalender pangkas rambut berwarna merah
untuk memperingati hari bebas para pemotong rambut maka kami berdua tidak jadi
untuk memotong rambut kami.
Tiba keesokan harinya waktu masuk sekolah kami tak tau harus merubah
penampilan kami seperti, kami sudah mecoba berbagai macam cara agar rambut kami
tidak terlihat gondrong. Berbagai cara telah kami coba seperti memakai jilbab,
kerudung, mukenah, serta kebaya pun tak luput jadi bahan percobaan kami. Namun
apa boleh buat kami pun mencoba tegar,iklas,sabar dan tabah dalam menghadapi
cobaan berat ini.
Dalam perjalanan ke sekolah, perasaan kami sudah banyak di hantui oleh
berbagai hal-hal aneh yang akan terjadi. Kami membayangkan apakah para guru
akan menjadikan kami sebagai target eksekusi selanjutnya ataukah hanya menjadi
bahan taruhan dalam perayaan bapak-bapak majelis taklim?
kami tak tau itu, yang jelas perasaan was-was kami tak henti-hentinya mengganggu.
kami tak tau itu, yang jelas perasaan was-was kami tak henti-hentinya mengganggu.
Tiba di depan sekolah kami sudah melihat kalau para guru sudah berbaris di
depan gerbang untuk menyambut para muridnya. Dengan penuh ketegasan hati dan
tekad segi tiga kami melangkah ke depan dengan bangga untuk mempersembahakan
ketulusan hati yang kokoh. Sampai di depan guru kami dengan sigap menyalaminya
dan bergegas untuk berpamitan pulang. Namun aksi ricuh kami ketahuan oleh para
ulama setempat.
Akhirnya kami di seret ke meja hijau untuk di adili. Aksi kami di katakan
telah melakukan porno aksi karena memang saat itu kami sedang memakai rok mini
ketat.tak diragukan karna paha kami yang mulus akhirnya tertangkap oleh media
masa setempat yang memang saat itu sedang melakukan sebuah aksi revolusi.
Selesai sidang kasus, kami pun di alihkan ke bagian rawat inap.
Selama di sekolah kami pun terus menjadi WANTED! Foto dan gambar wajah kami
tertempel di mana-mana dengan harga goceng! Namun kami tidak sendirian temen
kami Heru ternyata juga tak luput menjadi incaran masa, dengan harga yang lebih
mahal dari kami, sekitar goceng setengah lah! (5500) #bedatipis.
Namun anehnya temen gue yang satu itu hebat banget ngilangnya. Entah
bagaimana dan dengan cara apa dia bisa berfotosintetis secara lancar dengan
warga sekitar. Sedikit mengintip dari dari tempat persembunyian gue ngeliat
mereka para tentara guru sepertinya sedang bersiap dan berjaga-jaga di setiap sudut.
Mereka semua bersenjatakan gunting yang lengkap dengan amunisi, peluru cadangan
serta pakaian arrmor dan lengkap denga baju anti peluru! Benar benar
pemandangan yang edan! Dunia semakin menggila bung! -_-“ (apa pada ngak waras
tu ya?)
Beberapa jam menunggu bel pulang pun akhirnya berbunyi. Kesempatan melewati
para penjaga yang lengahpun tak kami sia-siakan begitu saja. Maka dengan cepat
kami pun berlari menuju gerbang dan berusaha keluar. Dengan kesungguhan dan
niat pasti akhirnya perjuangan kami tidak sia-sia. Kami berdua berhasil keluar
dari sekolah tersebut namun sepertinya salah satu tentara guru mengetahuinya!
Maka kami berdua pun bergegas berlari secepat munggkin dari mereka untuk menuju
ke rumah.
Setiba di rumah, gue pun langsung mencoba untuk menenangkan diri dengan
meditasi sejenak. Dalam meditasi gue mendapat wangsit kalo ada sms di hp gue,
maka dengan cepat gue lihat hp gue dan ternyata benar! Ada sebuah pesan masuk
di hp gue. Pesan itu dari temen gue namanya dede atau tepatnya mamanggg choral!
Dalam pesan itu berisi pesan! Ya tapi itu memang pesan dan isinya pesan.
AHHHH.... Ribet!
isi pesan tersebut adalah sebuah ajakan buat gue dan rekan gue untuk ikutan joging men!!!
isi pesan tersebut adalah sebuah ajakan buat gue dan rekan gue untuk ikutan joging men!!!
Ya kami pun menyetujui ajakan itu namun tetap dengan perasaan cemas dan
tetap jaga-jaga. Kami takut kalau saja para tentara itu masih mengejarkami.
Tapi setelah di lihat-lihat sepertinya keadaan sudah aman terkendali.
Tiba menjelang sore gue dan rekan gue bergegas menuju rumah si batu choral
tersebut. Dengan tetap berjaga-jaga akhirnya kami sampai juga ke rumahnya.
Sambil menunggunya bersiap, gue dan rekan gue bersiap mengambil
ancang-ancang serta tak lupa melakukan pemanasan terlebih dahulu. Tapi nampaknya
pemanasan yang di lakukan rekan gue satu ini terlalu extrem! Mana ngak extrem
kalo pemanasanya adalah mengajak berdansa orang tua si choral. Itu sudah
keterlaluan bung! -_-
Setelah persiapan selesai kami pun joging bersama. Perjalan jauhpun kami
tempuh bersama! Segala rintangan kami lewati. Saat itu kami merasa benar-benar
sangat bersemangat. Kami berlari dengan kencang hingga tiba-tiba dari kejauhan,
sesosok mamang penjual pangsit muncul di depan kami.
Awalnya keadaan terasa biasa saja sampai suatu ketika bulu kuduk kami
merinding dan perasaan kami tak nyaman. Dengan penasaran kami mencoba untuk
melihat ke belakang dan ternyata benar apa yang selama ini kami takutkan
terjadi. Terliahat kerumunan ramai berlari ke arah kami dengan membawa gunting!
Dengan spontan kami pun berlari sekuat tenaga dan berteriak dengan kencang
“RAZIA!!!!!” kami berlari sekuat tenaga, mamang pangsit pun tak luput dari
amukan masa! Dengan gesit mamang pangsit yang berambut botak di depan kami juga
ikut berlari! Tak mau kalah gue mencoba menyusul mamang tersebut. Saling susul
menyusulpun terjadi, tak diragukan semua mata tertuju padanya. Di belakang para
guru tentara masih mengejar kami!
Dalam hati gue berpikir! Separah ini kah kejadiaan yang harus kami alami
kalau belum potong rambut! Hingga mamang tukang pangsit pun harus rela ikut
serta dalam adegan panas ini! -__-“
Finis..... but no finis!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar